661-665 P PRODUKSI BATAKO SERAT PELEPAH KELAPA SAWIT TERHADAP EMISI KARBON DIOKSIDA (CO2)

PRODUKSI BATAKO SERAT PELEPAH KELAPA SAWIT TERHADAP EMISI KARBON DIOKSIDA (CO2)

Authors

  • Zainuri , Dedi Zargustin , Gusneli Yanti, Shanti Wahyuni Megasari

Keywords:

batako, CO2, serat

Abstract

Pelepah kelapa sawit merupakan bagian dari pohon kelapa sawit yang selama ini belum banyak
dimanfaatkan, dibiarkan menjadi limbah sebanyak 89.479.518,912 ton/tahun untuk perkebunan sawit di Riau
seluas 2.399.172 hektar menurut data BPS (2014). Limbah tersebut berpotensi menjadi polutan bila terbakar.
Limbah pelepah kelapa sawit sebenarnya masih dapat dimanfaatkan, misalnya sebagai bahan tambah dalam
pembuatan batako sesuai penelitian Zainuri (2018), yang menemukan bahwa penambahan serat pelepah
kelapa sawit sebanyak 1% dari berat semen lebih baik dari penambahan serat 3% dan 5% untuk pembuatan
batako serat. Tujuan penelitian ini untuk menghitung jumlah emisi karbon yang dihasilkan ketika
memproduksi batako serat dan membandingkannya dengan emisi karbon pada pembuatan batu bata. Metode
penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan kegiatan utama survei lapangan. Kesimpulan
yang didapat adalah sebagai berikut produksi emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasil dari mesin produksi
batako serat dalam 1 m3
adalah 0,00178 ton/m3
(2,41 ton/tahun). Produksi emisi karbon dioksida (CO2) yang
dihasil dari mesin produksi dan proses pembakaran batu bata dalam 1 m3
adalah 0,15 ton/m3
(69,66
ton/tahun). Temuan dalam penelitian ini adalah emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari proses
produksi batu bata 84 kali lebih besar dari produksi batako serat.

Published

2018-07-31